oleh

KH.Ma’ruf Amin BERKESEMPATAN MEMBERIKAN SAMBUTAN DALAM ACAR WISUDA SARJANA STRATA 1 ANGKATAN I SEKOLAH TINGGI ILMU FIQIH SYEIKH NAWAWI TANARA (STIF SYENTRA)

Sidak Nusantara – Atas berkat rahmat Allah SWT, akhir pekan ini, saya berkesempatan memberikan sambutan dalam acara wisuda Sarjana Strata 1 Angkatan I Sekolah Tinggi Ilmu Fiqih Syeikh Nawawi Tanara (STIF SYENTRA) melalui konferensi video.


Saya menekankan bahwa lulusan STIF SYENTRA harus mampu mengemban dua tugas penting. Pertama, penguasaan ilmu agama, khususnya ilmu fiqih. Kedua, meneruskan perjuangan Syeikh Nawawi Banten yang meraih gelar sebagai Pemimpin Ulama di Dataran Hijaz dan Ulama Besar pada Abad 14 Hijriah.

Reputasi keilmuan Syeikh Nawawi diakui di seluruh dunia. Tafsirnya jadi tesis dengan judul Muhammad Nawawi Wa Man Hajju Tafsiri, Muhammad Nawawi dan Metode Penafsirannya, di Libya. Di McGill University, Kanada, kitabnya, Salalimul Fudhola juga menjadi tesis dalam ilmu tasawuf, mengenai sufistik di Indonesia.

Perguruan tinggi ini dinamakan Ilmu Fiqih karena Syeikh Nawawi merupakan ahli fiqih bermahzab syafi’i, ahli tasawuf dan juga unggul di dalam masalah tafsir. Cara berpikir fiqih Syeikh Nawawi adalah cara berpikir yang moderat dan sangat dinamis, tathawuriyyan; tidak tekstual, tidak al jumud ‘alal manqulat (tastis pada teks); tidak juga al jumud ‘alal ibarat (statis pada ibarat-ibarat yang ada kitab saja).

Saya berharap para sarjana lulusan STIF SYENTRA dapat memiliki cara berpikir yang sama dengan Syeikh Nawawi. Tidak berpikir tekstual, tidak juga rigid, juga tidak liberal. Tapi, tawashuthiyan wa tathawuriyyan wa manhajiyyan (berpikir moderat, dinamis, tetapi berada di dalam manhaj: ada rel dan metodologinya.

@kyai_marufamin

Bagikan :

Komentar

Berita Lain