oleh

MENTERI PERTAHANAN Prabowo Subianto MENJAJAKI KERJA SAMA ALAT UTAMA SISTEM PERSENJATAAN (alutsista)

-Nasional-146 views

Sidak Nusantara – Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menjajaki kerja sama alat utama sistem persenjataan (alutsista) lewat rangkaian kunjungan ke Amerika Serikat, Austria, Prancis, dan Turki di sepanjang Oktober ini.

Dari sekian kunjungan itu, lawatannya ke Amerika Serikat pada 15-19 Oktober lalu paling mendapat sorotan. Ini karena lawatan tersebut sekaligus menandai berakhirnya kebijakan AS yang selama sekitar 20 tahun pernah melarang kedatangan Prabowo.

Selama kurun waktu 20 tahun Prabowo tak diperbolehkan menginjakkan kaki di Amerika Serikat karena dianggap terlibat sejumlah kasus pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi menjelang dan sesudah kejatuhan Presiden Soeharto.

Sikap AS yang sekarang melunak terhadap Prabowo, ditengarai oleh pakar hukum internasional, Hikmahanto Juwana, sebagai siasat untuk merangkul Indonesia agar tidak jatuh ke pelukan China. Dan hal ini tak lepas dari pertimbangan strategis AS terkait konflik di Laut China Selatan yang belakangan memanas.

Dalam konflik di Laut China Selatan, Beijing mengklaim hampir 90 persen wilayah di perairan itu. Klaim tersebut tumpang tindih dengan wilayah perairan dan ZEE sejumlah negara ASEAN seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei. Sementara Amerika menjadi negara yang aktif menentang klaim dan aksi sepihak China.

Indonesia sebenarnya telah berulangkali menegaskan tidak memiliki sengketa dengan China di Laut China Selatan. Namun, aktivitas sejumlah kapal ikan dan patroli China di ZEE Indonesia di sekitar Natuna jadi persoalan yang membuat khawatir Jakarta.

Pada beberapa kasus Indonesia sempat mengerahkan armada lautnya untuk mengusir kapal-kapal nelayan dan patroli China di perairan Natuna.

Dalam kompleks persoalan ini, Amerika melihat Indonesia sebagai negara penting dalam konflik di Laut China Selatan.

Kata Hikmahanto, dalam Buku Putih Departemen Pertahanan AS disebutkan bahwa China berniat untuk membangun pangkalan militer di Indonesia. AS menduga hal itu disebabkan oleh kedekatan ekonomi antara Indonesia dan China.

prabowomenhan

Bagikan :

Komentar

Berita Lain